OJK Soroti Tantangan Bank Digital: Infrastruktur TI dan Risiko Siber
Swan.my.id - Jakarta, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkap sejumlah tantangan yang dihadapi industri bank digital di Indonesia. Tantangan tersebut mencakup ketergantungan pada infrastruktur teknologi informasi (TI) milik pihak lain hingga risiko serangan siber dan fraud.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, masih banyak bank digital yang bergantung pada infrastruktur TI perusahaan induk. Kondisi ini dapat memengaruhi fleksibilitas bank dalam mengembangkan teknologi serta melakukan inovasi digital.
“Selama ini masih banyak bank digital yang memiliki ketergantungan infrastruktur TI pada pihak lain, khususnya kepada induknya,” kata Dian di Jakarta, Rabu (9/9/2026).
Ketergantungan Infrastruktur TI Jadi Tantangan Bank Digital
Menurut Dian, ketergantungan tersebut dapat menjadi persoalan ketika perusahaan induk memiliki fokus pengembangan yang berbeda dengan bank digital di bawahnya. Perbedaan arah pengembangan itu berpotensi membatasi ruang gerak bank dalam menyesuaikan teknologi dan layanan.
“Hal tersebut berdampak pada fleksibilitas bank digital dalam pengembangan TI dan inovasi digital, khususnya apabila perusahaan induk memiliki fokus pengembangan yang berbeda,” ujarnya.
Dian menilai, kemandirian infrastruktur TI perlu diperkuat karena teknologi memiliki peran sentral dalam menjamin keberlangsungan operasional dan pengembangan bisnis bank digital. Kebutuhan tersebut semakin penting karena bank digital mengandalkan saluran elektronik untuk menjalankan kegiatan usahanya.
Bank digital merupakan bank yang menyediakan dan menjalankan kegiatan usaha terutama melalui saluran elektronik, dengan kantor fisik yang terbatas. Karena itu, keandalan infrastruktur menjadi bagian penting dalam mendukung layanan kepada nasabah.
Kolaborasi Digital Membuka Risiko Keamanan
Selain persoalan infrastruktur, OJK menyoroti risiko keamanan siber yang dihadapi industri perbankan. Dalam beberapa tahun terakhir, terdapat sejumlah insiden serangan siber maupun fraud di industri perbankan. Sebagian insiden tersebut bahkan bersumber dari pihak lain yang terhubung dengan bank.
Kebutuhan berkolaborasi dalam ekosistem digital membuat bank digital harus membuka koneksi dengan berbagai platform atau aplikasi. Kolaborasi ini dapat mempermudah distribusi layanan, memperluas jangkauan pasar, dan mempercepat inovasi.
Namun, koneksi dengan banyak pihak juga dapat menciptakan celah keamanan pada platform aplikasi bank digital. Celah tersebut perlu menjadi perhatian karena platform digital merupakan saluran utama bank dalam melayani nasabah.
“Oleh karena itu, bank digital perlu memiliki sistem pengamanan TI yang memadai sehingga mampu tetap resilien di tengah ancaman siber yang ada saat ini,” kata Dian.
Penguatan TI Harus Diikuti Tata Kelola
Dian menegaskan bahwa penguatan infrastruktur dan keamanan TI tidak dapat berjalan sendiri. Bank digital juga perlu memperkuat permodalan, tata kelola, serta manajemen risiko secara bersamaan.
Penguatan pada sejumlah aspek tersebut menjadi penting agar bank mampu menjaga keberlangsungan operasional sekaligus menghadapi ancaman yang muncul dari koneksi digital. Dengan demikian, pengembangan layanan dan inovasi dapat berlangsung tanpa mengabaikan aspek keamanan.
Tantangan yang disoroti OJK menunjukkan bahwa pertumbuhan bank digital tidak hanya bergantung pada kemampuan menghadirkan layanan elektronik. Kemandirian teknologi, sistem pengamanan yang memadai, permodalan, tata kelola, dan manajemen risiko juga menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan bank digital.
Kesimpulan
OJK menilai industri bank digital masih menghadapi tantangan berupa ketergantungan infrastruktur TI pada pihak lain serta meningkatnya risiko siber dan fraud. Karena itu, bank digital perlu memperkuat kemandirian teknologi dan sistem keamanan, bersamaan dengan permodalan, tata kelola, serta manajemen risiko.